"Underestimate" Atau sikap meremehkan orang lain, baik dalam kemampuan seseorang, memandang rendah berdasarkan status orang lain, ataupun tidak mempercayai kemampuan akan seseorang dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
Apakah kalian pernah merasakannya? Orang yang sudah underestimate terhadap kalian?
Saya?? Tentu saja pernah.
Apa sikap kalian jika seseorang understimate kepadamu? Marah? atau Mengumpat? atau bahkan diam saja.
Well, first thing that you have to do is..Introspeksi diri.
Apakah kita pernah meremehkan seseorang? Apakah kita "mungkin" tanpa kita sadari pernah menyakiti perasaan orang lain melalui ucapan kita? Itulah salah satu cara kita untuk tidak sakit hati jika memang ada yang underestimate terhadap kita.
Tidak selamanya orang yang pernah di remehkan, atau disepelekan akan terpuruk.
Contoh kecil saja:
suatu hari, karena saya tidak tahu tentang suatu berita akhirnya seseorang berbicara kepada saya "Buka donk internet, biar tau berita"
Walaupun sebenarnya tanpa banyak diketahui orang yang mengatakan itu kepada saya, saya sudah sangat sering buka internet.
Dan saya tidak perlu berbicara "Enak aja lo, lo pikir gw ga pernah buka internet".
Sepertinya tidak perlu juga seperti itu (Kecuali memang kamu ingin terjadi perdebatan yang panjang :p )
Saya hanya membuktikan sedikit saja, Dengan membuat blog ini saya rasa sudah cukup menjadi jawaban akan omongan orang tersebut.(meskipun blog yang sangat sederhana)
Belum tentu orang yang mengatakan tadi bisa membuat blog seperti saya toh, bukan begitu bukan??
Itu contoh kecil saja,
Banyak sekali orang yang pernah mengalami underestimate justru mengalami kesuksesan. Mungkin memang sudah jalan Tuhan untuk membuat kita di-underestime-kan dengan orang lain, untuk bisa membuat kita lebih terbuka dalam berfikir. Lebih bijaksana dalam bersikap. Lebih bekerja keras dengan giat. Dan dengan diperlakukan seperti itu kita punya inisiatif dalam bertindak, meskipun rasanya Ough!!!
Contoh cerita pendek tentang Underestimate Yang Mungkin bisa menjadi inspirasi :
Pada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan
yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian
biasa saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak
itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah
satu pelayan.
Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu
memberikan buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu
berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari penampilannya,
pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu membayar makanan yang ada.
“Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan
cokelat?” tanya sang anak kecil.
Sang pelayan menjawab, “Lima puluh ribu,”
Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu
mengambil beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, “Kalau
es krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?”
Si pelayan mengerutkan kening, “Dua puluh ribu,”
Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku
celananya lalu menghitung. “Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus
strawberry dan cokelat berapa?”
Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab
dengan ketus, “Sepuluh ribu!”
Sang anak lalu tersenyum, “Baiklah aku pesan itu saja,
terima kasih!”
Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian
dapur lalu kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan
menikmati es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim
sampai habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.
“Semua sepuluh ribu bukan?” tanya anak itu lalu membayar es
krim pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam
karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak mengeluarkan
selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya, “dan ini tips untuk
Anda!” ujar sang anak sambil menyerahkan selembar uang tersebut untuk si
pelayan.
Ada kalanya kita tidak melihat apa yang melekat pada tubuh
seseorang saja sebagai penilaian. Bukan hal yang bagus untuk meremehkan
seseorang karena melihat penilaian dari luar, Anda tidak akan pernah tahu pada
beberapa waktu yang akan datang, seseorang yang Anda remehkan bisa jadi
merupakan pengantar rejeki yang tak terduga. sumber
Dari pengalaman kita yang telah mengalami Underestimate, mungkin kita bisa mengambil hikmah dari itu semua. Menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bersabar. Toh segalanya tidak berhenti karena komentar pedas dari seseorang atau karena orang yang meremehkan kita. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan, tentunya hal yang positif.
Atau berkaca, apakah kita pernah melakukan hal tersebut terhadap orang lain, mungkin saja ini (Undersetimate/ Diremehkan) adalah hukuman bagi kita karena kita pernah menyakiti perasaan orang lain, atau meng-underestimate-kan orang lain.
So, introspeksi diri saja
and
Cheers as always ;)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar