}

snow

Many Thanks For Visit My Blog

Senin, 11 Februari 2013

Dalam Duka Tersirat Hikmah



Hikmah

Kala itu pagi sangat cerah, aku pun keluar menuju teras rumah untuk menghirup udara pagi yang cerah.
Tak kulihat kedua orangtua ku, pasti Papa dan Mamaku sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya hari ini jam kuliah pertama akan dimulai siang nanti. Aku masih punya waktu untuk bersiap-siap sebelum aku pergi ke kampus.

Seperti biasa bik Minah membantuku untuk membuat sarapanku. Bik Minah sudah sangat lama membantu keluargaku, sedari aku balita ia sudah membantu keluargku. Meskipun bukan dari keluargaku, aku sangat menyayangi Bik Minah, seperti aku menyayangi kelurgaku sendiri.

Hari sudah siang, aku bersiap-siap pergi ke kampus. Dengan mengendarai mobilku, akupun berangkat ke kampus.
“Awas!!!”
Ku dengar suara dari kejauhan. Aku dengan semerta merta kaget dan segera menginjak rem.
Entah bagaimana, aku menabrak seorang Bapak Tua yang sedang mendorong gerobak, “Ya Tuhan!!!” Tapi terlambat, mobilku sudah mengenainya dan gerobaknya, aku begitu ketakutan. Banyak orang mendatangi mobilku. Aku sangat takut mereka main hakim kepadaku. Akhirnya aku memberanikan diri keluar dari mobilku dan melihat keadaan Bapak itu.
“Maaf, pak. Ayo segera ke Rumah Sakit Pak” ucapku kepada Bapak itu.
Beberapa warga membantunya menaiki ke mobilku, dan aku segera ke Rumah Sakit. 

Sesampainya di Rumah Sakit, Bapak itu segera diperiksa dan diobati.
Bapak itu tidak ingin dirawat, ia ingin aku mengantarnya pulang, “Nak, tolong antar Bapak pulang. Luka Bapak tidak terlalu parah kok, Pasti anak dan istri Bapak menunggu Bapak. Bapak tidak ingin mereka khawatir” Bapak itu berkata.
“Iya pak, tentu saja. Saya akan bertanggung jawab terhadap Bapak, sampai Bapak sembuh” Jawabku.

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, aku bertanya siapa nama Bapak itu,
 “Panggil saya Pak Hasan, nak” Jawab Bapak itu singkat.
Akupun tidak banyak bertanya kepadanya, biar Pak Hasan istirahat dalam perjalanan menuju rumahnya dan sesekali memberikan petunjuk jalan menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah Pak Hasan, rasa takut menderaku. Aku takut keluarga Pak Hasan marah kepadaku karena aku menabrak Pak Hasan. Sambil membantu dan menopang Pak Hasan menuju ke dalam rumah, aku berdoa. Hatiku berdebar keras karena rasa takut teramat sangat.
“Ya Allah pak, kenapa?” Jawab seorang wanita, yang ternyata adalah istri Pak Hasan.
“Maaf bu, saya tidak sengaja menabrak Pak Hasan. Saya akan bertanggung jawab sampai Pak Hasan sembuh” jawabku menjelaskan.
Tanpa kuduga, Bu Hasan tersenyum, “Iya, yang namanya musibah kan tidak diketahui. Terima kasih sudah mengurus Bapak dan mengantarnya kesini. Adik sudah sangat baik mau bertanggung jawab. Saya sangat bersyukur, Bapak tidak terkena tabrak lari” Jawab bu hasan sambil tersenyum.
Ya Tuhan, Bu Hasan sangat baik dan sangat ikhlas menerima bahwa suaminya terkena musibah karena aku menabraknya. Aku sangat merasa bersalah. Jarang sekali orang seperti Bu Hasan dan Pak Hasan. Dalam keterbatasan ekonomi, mereka masih mempunyai hati yang sangat baik.
“Nama adik siapa?” Tanya Bu Hasan sambil memberikan aku dan Pak Hasan segelas teh hangat.
“Nama saya Meta, bu.” Jawabku.
Dan akupun berbincang bincang dengan Bu Hasan, sambil ia membasuh Pak Hasan dengan air hangat. Bu Hasan banyak bercerita tentang keluarganya. Ia bercerita, usaha Pak Hasan adalah Jual Beli barang bekas. Mereka memiliki seorang anak perempuan masih sekolah di kelas 2 (dua) SMK, bernama  Yuli.  Dan banyak yang Bu Hasan ceritakan. Ia begitu lembut dan baik hati, tutur katanya sangat khas, aku sangat menyukai cara Bu Hasan bercerita. Entah kenapa mengingatkanku dengan Mama ketika sedang membaca dongeng sebelum aku tidur ketika aku kecil dulu.

“Asslamuailaikum” Jawab seorang anak perempuan yang baru saja  datang. Ia mengenakan baju sekolah, sepertinya baru pulang dari sekolahnya.
“Sepertinya ini anak mereka yang bernama Yuli”, pikirku dalam hati
“Yul, kenalkan ini Meta” Ucap bu Hasan.
Kami pun berjabat tangan sambil menyebut nama masing-masing. Dan Bu Hasan menceritakan semua yang terjadi dengan Pak Hasan. Seperti kedua orangtuanya, Yuli juga merupakan anak yang baik. Ia pun tidak marah atau membenciku karena aku sudah menabrak Ayahnya. Aku juga merasakan kedekatan mereka, mereka saling tertawa dan bercanda. Meskipun mereka adalah hidup dalam kesederhanaan. Rumah mereka pun sangat sederhana, dengan daerah yang masih kampung. Tidak ada Sofa di ruang tamu, hanya beralaskan tikar. Sangat sederhana, tapi aku melihat kebersamaan, canda dan tawa dalam keluarga mereka. Tidak sepertiku, yang hidup serba kecukupan, tapi tidak ada canda, tawa dan kebersamaan dengan kedua orangtuaku. Karena kedua orangtuaku sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku pun hanya ditemani oleh Bik Minah di rumah. Sudah lama aku tidak merasakan kebersamaan seperti ini, tanpa aku sadari aku terharu dan meneteskan airmata. Aku sangat merindukan suasana seperti ini di rumahku.
“Kamu kenapa sedih, Met?” Tanya Bu Hasan.
“Oh, tidak bu. Aku sangat menyukai keluarga ini. Sangat harmonis dan banyak kebersamaan. Kalau di rumah saya, kedua orangtua saya terlalu sibuk bu, jadi saya malah jarang ketemu mereka” jawabku.
“Sabar saja Met, mereka bekerja kan untukmu juga” Jawab Bu Hasan menghiburku.

Hari sudah malam, akupun berpamitan untuk pulang. Dalam perjalanan menuju ke rumah, aku merenung dan membayangkan betapa Pak Hasan dan keluarganya begitu bahagia meskipun dengan keterbatasan ekonomi. Sedangkan aku sudah lama tidak merasakan kebahagiaan seperti itu dikeluargaku. Mungkin terakhir kali aku merasakan kebersamaan seperti itu, ketika aku duduk dibangku SD. Sekarang Papahku begitu sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Mama. Aku sangat merindukan mereka seperti dulu. Meskipun dulu aku tidak berkecukupan seperti sekarang, tapi aku lebih menyukai suasana rumahku yang dulu.

Keesokan harinya, aku kembali ke rumah Pak Hasan, aku menepati janjiku untuk terus bertanggung jawab sampai Pak Hasan sembuh dan membelikan Pak Hasan gerobak baru. Aku sangat menyukai waktu bersama mereka. Aku merasa sudah sangat dekat dengan mereka, aku seperti tidak ingin melepaskan kebersamaan ini.

Tanpa terasa sudah seminggu setelah aku menabrak Pak Hasan, kondisi Pak Hasan sudah jauh membaik. Dan aku sudah sangat dekat dengan mereka. Sepulang kuliah aku selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi mereka. Mungkin dalam beberapa hari lagi, pak Hasan sudah dapat bekerja kembali. Dan aku tidak akan berhenti mengunjungi mereka. Aku sangat menyukai bersama mereka.

Setelah lama memikirkannya, Akhirnya tercetus ideku untuk Pak Hasan. Dan aku akan meminta persetujuan Papaku untuk itu. Tanpa di duga Papa menyetujuinya, aku sangat bahagia.

Akhirnya aku setiap hari bisa bertemu mereka. Pak Hasan membantu keluargaku dan menjadi Tukang kebun di rumahku merangkap supir di rumahku. Yuli, setelah lulus SMK akhirnya dapat melanjutkan kuliah, karena Papaku membantu biaya kuliahnya. Dan Bu Hasan membantu pekerjaan Bik Minah di dapur. Akhirnya aku dapat terus merasakan kebersamaan mereka, tawa dan canda kembali hadir di rumahku. Aku sangat bersyukur telah bertemu Pak Hasan, meskipun harus dengan cara menabraknya. Tapi, ternyata dibalik itu tersimpan kebahagiaan dan hikmah yang tak terhingga untukku. Rasa syukur yang tak terhingga aku hanturkan, betapa menyenangkan kebersamaan ini. Terlebih lagi sekarang Papa dan Mamaku sudah mengurangi kesibukan mereka. Dan kami semakin sering bersama.
“Terima kasih Tuhan, atas kebersamaan ini”, doaku dalam hati dan tanpa terasa aku meniitikkan airmata haru.

Sekian


Semoga bermanfaat yaa ;)
Best Regrads

Tidak ada komentar:

Blue Flower Design Pointer Blue Flower Design Pointer