![]() |
| Hikmah |
Kala itu pagi sangat cerah, aku pun keluar menuju teras rumah untuk
menghirup udara pagi yang cerah.
Tak kulihat kedua orangtua ku, pasti Papa dan Mamaku sedang sibuk dengan
pekerjaannya. Sepertinya hari ini jam kuliah pertama akan dimulai siang nanti.
Aku masih punya waktu untuk bersiap-siap sebelum aku pergi ke kampus.
Seperti biasa bik Minah membantuku untuk membuat sarapanku. Bik Minah
sudah sangat lama membantu keluargaku, sedari aku balita ia sudah membantu
keluargku. Meskipun bukan dari keluargaku, aku sangat menyayangi Bik Minah,
seperti aku menyayangi kelurgaku sendiri.
Hari sudah siang, aku bersiap-siap pergi ke kampus. Dengan mengendarai
mobilku, akupun berangkat ke kampus.
“Awas!!!”
Ku dengar suara dari kejauhan. Aku dengan semerta merta kaget dan segera
menginjak rem.
Entah bagaimana, aku menabrak seorang Bapak Tua yang sedang mendorong
gerobak, “Ya Tuhan!!!” Tapi terlambat, mobilku sudah mengenainya dan
gerobaknya, aku begitu ketakutan. Banyak orang mendatangi mobilku. Aku sangat
takut mereka main hakim kepadaku. Akhirnya aku memberanikan diri keluar dari
mobilku dan melihat keadaan Bapak itu.
“Maaf, pak. Ayo segera ke Rumah Sakit Pak” ucapku kepada Bapak itu.
Beberapa warga membantunya menaiki ke mobilku, dan aku segera ke Rumah
Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Bapak itu segera diperiksa dan diobati.
Bapak itu tidak ingin dirawat, ia ingin aku mengantarnya pulang, “Nak,
tolong antar Bapak pulang. Luka Bapak tidak terlalu parah kok, Pasti anak dan
istri Bapak menunggu Bapak. Bapak tidak ingin mereka khawatir” Bapak itu
berkata.
“Iya pak, tentu saja. Saya akan bertanggung jawab terhadap Bapak, sampai
Bapak sembuh” Jawabku.
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, aku bertanya siapa nama Bapak itu,
“Panggil saya Pak Hasan, nak”
Jawab Bapak itu singkat.
Akupun tidak banyak bertanya kepadanya, biar Pak Hasan istirahat dalam
perjalanan menuju rumahnya dan sesekali memberikan petunjuk jalan menuju
rumahnya.
Sesampainya di rumah Pak Hasan, rasa takut menderaku. Aku takut keluarga
Pak Hasan marah kepadaku karena aku menabrak Pak Hasan. Sambil membantu dan
menopang Pak Hasan menuju ke dalam rumah, aku berdoa. Hatiku berdebar keras
karena rasa takut teramat sangat.
“Ya Allah pak, kenapa?” Jawab seorang wanita, yang ternyata adalah istri
Pak Hasan.
“Maaf bu, saya tidak sengaja menabrak Pak Hasan. Saya akan bertanggung
jawab sampai Pak Hasan sembuh” jawabku menjelaskan.
Tanpa kuduga, Bu Hasan tersenyum, “Iya, yang namanya musibah kan tidak
diketahui. Terima kasih sudah mengurus Bapak dan mengantarnya kesini. Adik
sudah sangat baik mau bertanggung jawab. Saya sangat bersyukur, Bapak tidak
terkena tabrak lari” Jawab bu hasan sambil tersenyum.
Ya Tuhan, Bu Hasan sangat baik dan sangat ikhlas menerima bahwa suaminya
terkena musibah karena aku menabraknya. Aku sangat merasa bersalah. Jarang
sekali orang seperti Bu Hasan dan Pak Hasan. Dalam keterbatasan ekonomi, mereka
masih mempunyai hati yang sangat baik.
“Nama adik siapa?” Tanya Bu Hasan sambil memberikan aku dan Pak Hasan segelas
teh hangat.
“Nama saya Meta, bu.” Jawabku.
Dan akupun berbincang bincang dengan Bu Hasan, sambil ia membasuh Pak
Hasan dengan air hangat. Bu Hasan banyak bercerita tentang keluarganya. Ia
bercerita, usaha Pak Hasan adalah Jual Beli barang bekas. Mereka memiliki
seorang anak perempuan masih sekolah di kelas 2 (dua) SMK, bernama Yuli.
Dan banyak yang Bu Hasan ceritakan. Ia begitu lembut dan baik hati,
tutur katanya sangat khas, aku sangat menyukai cara Bu Hasan bercerita. Entah
kenapa mengingatkanku dengan Mama ketika sedang membaca dongeng sebelum aku
tidur ketika aku kecil dulu.
“Asslamuailaikum” Jawab seorang anak perempuan yang baru saja datang. Ia mengenakan baju sekolah,
sepertinya baru pulang dari sekolahnya.
“Sepertinya ini anak mereka yang bernama Yuli”, pikirku dalam hati
“Yul, kenalkan ini Meta” Ucap bu Hasan.
Kami pun berjabat tangan sambil menyebut nama masing-masing. Dan Bu Hasan
menceritakan semua yang terjadi dengan Pak Hasan. Seperti kedua orangtuanya,
Yuli juga merupakan anak yang baik. Ia pun tidak marah atau membenciku karena
aku sudah menabrak Ayahnya. Aku juga merasakan kedekatan mereka, mereka saling
tertawa dan bercanda. Meskipun mereka adalah hidup dalam kesederhanaan. Rumah
mereka pun sangat sederhana, dengan daerah yang masih kampung. Tidak ada Sofa
di ruang tamu, hanya beralaskan tikar. Sangat sederhana, tapi aku melihat
kebersamaan, canda dan tawa dalam keluarga mereka. Tidak sepertiku, yang hidup
serba kecukupan, tapi tidak ada canda, tawa dan kebersamaan dengan kedua orangtuaku.
Karena kedua orangtuaku sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku pun hanya
ditemani oleh Bik Minah di rumah. Sudah lama aku tidak merasakan kebersamaan
seperti ini, tanpa aku sadari aku terharu dan meneteskan airmata. Aku sangat
merindukan suasana seperti ini di rumahku.
“Kamu kenapa sedih, Met?” Tanya Bu Hasan.
“Oh, tidak bu. Aku sangat menyukai keluarga ini. Sangat harmonis dan
banyak kebersamaan. Kalau di rumah saya, kedua orangtua saya terlalu sibuk bu,
jadi saya malah jarang ketemu mereka” jawabku.
“Sabar saja Met, mereka bekerja kan untukmu juga” Jawab Bu Hasan
menghiburku.
Hari sudah malam, akupun berpamitan untuk pulang. Dalam perjalanan menuju
ke rumah, aku merenung dan membayangkan betapa Pak Hasan dan keluarganya begitu
bahagia meskipun dengan keterbatasan ekonomi. Sedangkan aku sudah lama tidak
merasakan kebahagiaan seperti itu dikeluargaku. Mungkin terakhir kali aku
merasakan kebersamaan seperti itu, ketika aku duduk dibangku SD. Sekarang
Papahku begitu sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Mama. Aku sangat
merindukan mereka seperti dulu. Meskipun dulu aku tidak berkecukupan seperti
sekarang, tapi aku lebih menyukai suasana rumahku yang dulu.
Keesokan harinya, aku kembali ke rumah Pak Hasan, aku menepati janjiku
untuk terus bertanggung jawab sampai Pak Hasan sembuh dan membelikan Pak Hasan
gerobak baru. Aku sangat menyukai waktu bersama mereka. Aku merasa sudah sangat
dekat dengan mereka, aku seperti tidak ingin melepaskan kebersamaan ini.
Tanpa terasa sudah seminggu setelah aku menabrak Pak Hasan, kondisi Pak
Hasan sudah jauh membaik. Dan aku sudah sangat dekat dengan mereka. Sepulang
kuliah aku selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi mereka. Mungkin dalam
beberapa hari lagi, pak Hasan sudah dapat bekerja kembali. Dan aku tidak akan
berhenti mengunjungi mereka. Aku sangat menyukai bersama mereka.
Setelah lama memikirkannya, Akhirnya tercetus ideku untuk Pak Hasan. Dan
aku akan meminta persetujuan Papaku untuk itu. Tanpa di duga Papa
menyetujuinya, aku sangat bahagia.
Akhirnya aku setiap hari bisa bertemu mereka. Pak Hasan membantu
keluargaku dan menjadi Tukang kebun di rumahku merangkap supir di rumahku.
Yuli, setelah lulus SMK akhirnya dapat melanjutkan kuliah, karena Papaku
membantu biaya kuliahnya. Dan Bu Hasan membantu pekerjaan Bik Minah di dapur.
Akhirnya aku dapat terus merasakan kebersamaan mereka, tawa dan canda kembali
hadir di rumahku. Aku sangat bersyukur telah bertemu Pak Hasan, meskipun harus
dengan cara menabraknya. Tapi, ternyata dibalik itu tersimpan kebahagiaan dan
hikmah yang tak terhingga untukku. Rasa syukur yang tak terhingga aku
hanturkan, betapa menyenangkan kebersamaan ini. Terlebih lagi sekarang Papa dan
Mamaku sudah mengurangi kesibukan mereka. Dan kami semakin sering bersama.
“Terima kasih Tuhan, atas kebersamaan ini”, doaku dalam hati dan tanpa
terasa aku meniitikkan airmata haru.
Sekian
Semoga bermanfaat yaa ;)
Best Regrads

Tidak ada komentar:
Posting Komentar