Masa kecil, Begitu banyak hal yang terjadi ketika masa kecil, yang mungkin tidak bisa kamu ingat kembali. Di saat kamu mencoba mengingat masa kecil itu, tentu akan membuat kamu tersenyum akan tingkah yang kamu lakukan dulu, bukan?
Kenakalan, kejahilan, yang sampai-sampai membuat kedua orangtua kamu marah, sedih dan tentu saja, tersenyum :)
Simak cerita pendek berikut :
Dipagi yang cerah ada seorang anak kelas 5 SD sedang berjalan menuju sekolahnya, ia berjalan dengan kepala yang menunduk.
"Miaaaa" terdengar suara seseorang memanggil namanya dengan suara yang keras. Ternyata itu adalah Aji teman sekelasnya.
"Kamu sudah mengerjakan PR Bahasa Indonesia?" Lanjut Aji.
"Sudah" Jawab Mia dengan suara yang lusuh
"Mia, Kenapa kamu sedih?" Tanya Aji.
Mia hanya diam, tidak menjawab apa-apa dan langsung masuk kelas. Pelajaran sekolahpun dimulai seperti biasa.
Bel istirahat berbunyi, dan semua murid segera keluar kelas agar dapat beristirahat dan membeli makanan. Namun Mia hanya duduk di bangku kelasnya dengan muka menunduk.
"Mia, kamu kenapa?" tanya Aji penasaran.
Aji adalah sahabat Mia dari TK. Aji adalah tetangga Mia. Mereka tumbuh bersama, bermain bersama. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Entah kenapa, hari ini Aji merasakan perbedaan pada Mia. Sepertinya Mia terlihat murung dan sedih.
"Aku engga kenapa-kenapa Ji," Mia menjawab dengan senyum kecil pada bibirnya.
Entah kenapa, Aji tidak percaya kepada Mia. Karena Aji sangat mengenal Mia.
Mia adalah seseorang yang ceria dan selalu tersenyum.
"Kok kamu engga jajan Mia? Kamu engga laper? Yuk, kita jajan?" Ajak Aji.
"Ya udah, Yuk jajan" Jawab Mia.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, tanda sudah berakhirnya jam pelajaran terakhir dan pulang.
Mia segera berlari keluar dari kelas.
"Miaaaaa" Panggil Aji
Mia terus berlari tanpa menghiraukan Aji. Aji mengejar Mia, dan akhirnya Mia pun berhenti berlari.
"Mia, kok engga nungguin aku? Kamu kenapa sih?" Tanya Aji untuk sekian kalinya.
Dan tanpa diduga, Mia pun menangis. Aji terlihat bingung melihat Mia menangis. Wajah polos Aji menunjukkan seolah ia tidak tahu harus bagaimana menenangkan Mia yang sedang menangis.
"Aku akan Pindah, Aji. Karena papa akan pindah kantor ke luar kota" Jawab Mia.
Aku tidak mau pindah, karena aku betah di sini. Dan aku tidak mau meniggalkan sahabat seperti kamu" Lanjut Mia. Dan Aji pun hanya terdiam.
Akhirnya, tibalah waktu yang dibenci Aji, yah Mia akhirnya pindah.
Dengan wajah sedih Aji mengucapkan selamat tinggal pada Mia, "Selamat tinggal Mia" Ucap Aji.
Mia pun hanya terdiam dan mengeluarkan airmata. Mereka pun berpelukan, sambil menangis.
Mia pun memberikan sesuatu kepada Aji, ia memberikan boneka beruang kesayangannya.
"Simpan ini yah Ji, dan di jaga dengan baik yah?" Ujar Mia
"Iya" jawab Aji sedih.
Dan mereka pun berpisah..
Tanpa terasa waktu berlalu, dan Mia sudah Kuliah semester akhir kedokteran.
Ia sudah menjadi sosok yang cerdas, dan sedang menyiapkan skripsinya. Ia magang dalam suatu Rumah Sakit Negeri yang terkenal.
Suatu hari, ketika ia sedang memeriksa pemuda yang mengidap Leukimia.
"Selamat siang, bagaimana keadaanmu?" Tanya Mia
"Dokter kan tau keadaan saya, kok pake nanya." Jawab pemuda itu sambil tersenyum kecil.
Mia hanya terdiam, sambil menarik nafas dan melanjutkan memeriksa pemuda tersebut.
Pemuda tersebut adalah pasien yang baru saja tadi malam masuk Rumah Sakit. Dan kali ini sudah ke-tiga kalinya ia masuk Rumah Sakit. Yang membuat Mia bertanya-tanya, tak ada yang menemaninya di Rumah Sakit. Hanya seorang Ibu yang sudah lanjut usia sesekali menengoknya di Rumah Sakit. Dan kali ini kondisi pemuda itu kian memburuk, ia sudah terlihat semakin lemah. Anehnya, semangat hidupnya tidak pernah pupus, ia selalu mempunyai harapan dapat sembuh dan kembali seperti sedia kala. Entah apa yang memberinya semangat hidup sehebat itu, Mia pun takjub kepada semangat pemuda itu.
Keesokan paginya seperti yang biasa dilakukan, Mia menuju kamar dimana pemuda itu dirawat. Ternyata ia sedang ditemani oleh seorang wanita lanjut usia.
"Pagi dok, ini ibu saya" Ucap pemuda tersebut.
"Pagi, Apa kabar Bu?" Tanya Mia sambil tersenyum kepada Ibu pemuda itu.
"Oh, ternyata itu ibunya" Pikir Mia dalam hati.
"Ibu saya kesini karena, saya meminta tolong kepadanya untuk membawakan sesuatu" Ucap pemuda itu.
"Untuk membawa ini" lanjut pemuda itu, sambil menunjukan sebuah boneka yang sudah usang, boneka beruang yang warnanya sudah lusuh. Dan Mia sudah sangat mengenal boneka tersebut. Yah, itu adalah boneka beruang yang ia berikan kepada Aji ketika ia kecil. Ketika ia harus pindah dan mengucapkan selamat tinggal kepada Aji. Ternyata pemuda yang selama ini ia tangani adalah Aji. Sahabat yang sangat dirindukannya. Sahabat yang sudah dicari - carinya sejak kuliah semester 4 (empat). Sahabat yang selalu menghiasi hari-harinya disaat kecil dulu.
"Ini yang membuat saya semangat hidup Dok. Karena, saya harus bertemu dengan orang yang memberikan ini sebelum saya di panggil Tuhan. Saya ingin mengucapkan terima kasih sama dia. Karena dia, Masa kecil saya penuh tawa. Dan saya ingin dia tahu, bahwa saya tidak akan pernah melupakannya. Dan saya sudah merawat boneka miliknya sampai akhir hidup saya". Jawab Pemuda itu penuh semangat dan mata berkaca-kaca.
Airmata Mia menetes haru, senyuman lebar terlihat pada bibir Mia. Ia tak sabar ingin memberitahu pemuda itu, bahwa dia lah orang yang selama ini dia cari. Dan Mia tidak dapat menutupi rasa bahagianya, karena ia pun selama ini mencari Aji.
Well,,
Mungkin tidak semua masa kecil seorang anak seindah cerita ini.
Banyak anak-anak Indonesia yang harus mengalami hidup yang sulit.
Cerita ini menceritakan tentang Memori atau ingatan seorang anak yang pada dasarnya sangat baik.
Seorang anak akan mengingat atau mengenang sesuatu hal, yang bagi mereka sangat berarti, atau yang menyakitkan sekalipun.
So, take care of our children nicely :)
Quote :
"There can be no keener revelation of a society's soul than
the way in which it treats its children."
-Nelson Mandela-
Semoga bermanfaat yaa,
Kalau ada kata yang salah, Mohon dimaafkan
Take care...
Cheers as always ;)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar